Setiap pasangan pasti menginginkan hubungan pernikahan yang harmonis, terlebih bagi pengantin baru yang baru saja menjalani kehidupan rumah tangga. Tapi tahu nggak sih, sebenarnya ada beberapa orang yang keliru dalam memahami pernikahan dan menganggap kalau pernikahan itu sebagai akhir dari suatu perjalanan, padahal nggak gitu, lho. Justru pernikahan itu adalah awal dari perjalanan hidup yang sesungguhnya.

Ada beberapa tahapan emosional yang perlu kamu tahu dalam menjalani biduk rumah tangga supaya rumah tangga kamu tetap harmonis. Nah, buat kamu yang punya rencana menikah atau baru saja menikah, Terinspirasi bakal ngasih tahu kamu, tahapan apa saja yang akan kamu lalui ke depan.
Stay tune ya sobat inspirasi.

1. Semangat dan Keinginan yang Tinggi

pixabay.com
Tahapan emosional pertama bisa dirasakan pada masa-masa penjajakan dan perkenalan, atau beberapa waktu menjelang pernikahan. Biasanya nih, para pasangan ini akan merasakan gelora dan gairah yang tinggi untuk menghadapi pernikahan, apalagi didukung dengan persiapan yang matang yang akan memperkuat hasrat dan keinginan untuk membangun rumah tangga dengan sempurna. Namun, pada fase ini biasanya belum tergambar jelas pernikahan seperti apa yang akan kalian jalani, yang terpenting saat ini adalah bisa menemukan pasangan yang satu visi dan misi kemudian bisa sama-sama melangkah ke jenjang pernikahan.

2. Masa Indah Bulan Madu Pasca Menikah

Pada tahap kedua, bisa juga disebut dengan masa-masa bulan madu. Masa-masa penuh rayu dan gombal-gombal manja ala pujangga.

Di sini, pasangan yang baru saja menikah akan berekspektasi pada pasangan masing-masing, berharap bahwa pasangannya adalah yang terbaik dari yang terbaik, pokoknya Mr and Mrs Perfect banget, lah. Padahal semua yang memulai pernikahan adalah orang awam. Ingat, nggak ada seseorang expert saat mereka akan memulai suatu perjalanan rumah tangga, karena berumah tangga adalah pelajaran seumur hidup, maka kalian akan terus menemukan hal baru yang akan kalian pelajari, kedepan.

Para pasangan baru akan mencoba untuk merealisasikan pernikahan impian yang telah diidam-idamkan sebelumnya. Memiliki pasangan yang lembut, perhatian, pengertian, saling membantu satu sama lain, dan hal-hal indah lainnya. Pada fase ini bisa jadi masing-masing dari kalian akan berusaha untuk menjadi seperti apa yang diinginkan oleh pasangannya.

3. Mulai Mempelajari Hal Baru

Menyadari bahwa kalian baru saja menginjak kehidupan yang baru, maka berusaha mencari pengetahuan tentang makna kebahagiaan dalam pernikahan biasanya bakal dilakukan sebagian pasangan. Seperti mulai bertanya kiat-kiat menjalani pernikahan yang bahagia pada pasangan yang sudah lebih dulu menikah, atau bahkan kalian bakal kepikiran untuk megikuti beberapa seminar pernikahan, lho.

4. Mulai Merasa Kecewa

Pixabay.com
 Saat melewati masa-masa indah pengantin baru, biasanya masalah akan mulai muncul di tahap ini. Siap-siap, ya, di sini, mungkin salah satu dari kalian akan mulai merasa lelah karena dituntut untuk memenuhi ekspektasi masing-masing, akan ada beberapa kekecewaan saat mendapati bahwa pasangan ternyata nggak sesempurna yang ada di benak kita. Kalian akan mulai saling mencari celah untuk menyalahkan satu sama lain.

“Kok suami aku aslinya jorok, ya?”

“Duh, istri aku kok makin kesini makin jarang dandan?”

“Ya ampun, udah dibilangin naro anduk jangan sembarangan, masih aja kayak gini.”

Pikiran-pikiran di atas pasti akan muncul secara perlahan dan bertahap, karena sifat asli masing-masing mungkin akan mulai terlihat karena sudah merasa nyaman satu sama lain, masalahnya adalah kalian belum bisa menerima sifat asli pasangan dengan senang hati, belum bisa beradaptasi dan menyadari, bahwa kali ini kalian sudah tidak bisa lagi hanya mementingkan ego sendiri.

5. Merasa Menyesal

Sebagian dari pasangan baru akan merasakan hal ini saat setelah melewati beberapa perselisihan yang cukup melelahkan dalam rumah tangga. Merasa pasangan nggak sesuai ekspektasi dan sebaliknya, merasa bahwa diri sendiri terlalu menuntut terhadap pasangan. Perasaan ini akan muncul secara bertahap dan biasanya diiringi dengan perasaan menyesal karena memutuskan untuk menikah. Maka perasaan ini adalah perasaan yang umum dan wajar dirasakan setelah kita mencoba menciptakan pernikahan yang sempurna namun nyatanya nggak sesuai harapan, menurut pikiran dan pendapatnya sendiri tentunya.

6. Mulai Menyadari Kekurangan

Pixabay.com
Pernikahan bagi sebagian pasangan baru mungkin akan terasa lebih sulit, bahkan mungkin semua pasangan baru akan kesulitan pada awalnya, dan itu adalah hal yang wajar. Sekali lagi, tidak ada orang yang ahli dalam hal berumah tangga. Ingat itu, ya.

Nah, setelah beberapa fase di atas dan mungkin melewati beberapa perselisihan yang tidak sedikit, maka situasi dan kondisi akan terlatih dengan sendirinya, termasuk kemampuan masing-masing dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah internal yang terjadi di antara kalian berdua.

Tahapan ini memungkinkan salah satu diantara kalian untuk mulai mengalah dan menerima bahwa pernikahan yang sempurna bukanlah pernikahan yang memaksakan keinginan kita pada orang lain, sekalipun itu pasangan kita sendiri. Pada tahap ini salah satu di antara kalian akan mulai menurunkan ego dan ekspektasinya yang tinggi. Mulai menyadari bahwa setiap orang pasti memiliki kekurangan dan itu adalah hal yang sangat wajar 'kan?

7. Berfikir Realistis

Setelah bisa meredam ego dan ekspektasi, selanjutnya kalian akan mulai mengubah tujuan dan makna pernikahan secara perlahan. Mungkin pada awalnya pernikahan sempurna bagi kamu dan pasangan adalah pernikahan yang diisi oleh sepasang suami istri yang sempurna tanpa cela, keuangan yang cukup, komunikasi yang lancar, perhatian suami yang melimpah ruah, dan keahlian istri mengurus rumah yang lihai. Namun dengan seiring berjalannya waktu, kalian akan menyadari bahwa pernikahan sempurna tidak memiliki template yang mutlak, jika kita tidak mampu mencapai template pernikahan sempurna pada umumnya, maka yang harus dilakukan adalah dengan menciptakan versi sendiri yang lebih realistis dan tidak memaksakan kehendak.

8. Saling Menerima Satu Sama Lain

Pixabay.com
Setelah sebelumnya kita berusaha untuk menerima kekurangan diri sendiri, akhirnya kita akan sampai pada tahap menerima kekurangan pasangan. Ini terlihat mudah pada awalnya, mungkin sebagian dari kalian akan berkata bahwa gampang-gampang aja tuh buat menerima kekurangan pasangan yang kita cintai, namun nyatanya tidak semudah itu, Ferguso.
Jika pasangan sudah sampai pada tahap ini, biasanya akan lebih mudah lagi untuk mencegah atau menyelesaikan masalah. Di sini, masing-masing dari kalian biasanya sudah saling menemukan cara untuk meredam emosi dan ego satu sama lain, istilahnya sudah menemukan short cut lah, untuk menghadapi masalah. Biasanya intensitas bertengkar pada masa ini akan berkurang dengan signifikan, keadaan rumah tangga yang awalnya menegangkan akan mulai kembali ceria dan menyenangkan. Sip, hebat!

9. Cinta yang Sebenarnya

Pixabay.com
Pasangan pengantin baru yang berhasil melewati fase sulit di atas, akhirnya akan sampai pada tahap yang mungkin bisa disebut tahap pamungkas. Setelah dihantam beberapa masalah internal bahkan mungkin eksternal, kalian akan saling mengeratkan pelukan kali ini. Belajar dari pengalaman, masalah-masalah sepele nggak lagi menjadi sumber perselisihan, kamu dan pasangan mulai beradaptasi dengan kehidupannya yang nggak sendiri lagi. Di tahap ini akan muncul beberapa fakta bahwa kalian akhirnya bisa saling menerima satu sama lain, memaklumi kesalahan masing-masing, memilih untuk membicarakan masalah dengan kepala dingin dan tentunya lebih dewasa dalam mengambil keputusan. Bukan lagi gairah dan obsesi yang ada di tahap ini, melainkan perasaan saling menyayangi yang tulus dan tanpa alasan.

Nah, Sahabat, mengambil sebuah kutipan dari Dawn J. Lipthrott, LCSW, seorang psikoterapis dan juga marriage and relationship educator and coach, bahwa tahapan-tahapan di atas tidak terikat oleh waktu, bisa jadi antara pasangan satu dan lainnya memiliki tahapan waktu yang berbeda saat melalui dan menghadapi tahapan-tahapan tersebut, begitupun dengan perubahan dari satu tahapan ke tahapan lain, mereka nggak terjadi secara signifikan.

Kedewasaan memanglah suatu faktor yang memengaruhi seseorang dalam menjalankan suatu mahligai pernikahan, makanya pemerintah juga sudah menetapkan batas usia untuk warga negaranya yang dinilai sudah mencukupi untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan, namun tidak menutup kemungkinan bahwa umur yang matang berarti tidak akan lepas dari masalah dalam berumah tangga ya, Sahabat. Intinya, sebelum memutuskan untuk menikah, pastikan bahwa kita sanggup untuk menghadapi hal terjal yang mungkin sudah menunggu di depan sana, tidak ada orang yang ahli untuk menjalankan suatu pernikahan, namun setidaknya kita dapat meminimalisir perpecahan saat kita sudah mempersiapkan diri di awal.

Hayoo, sudah semakin mantap untuk menikah, atau masih mempersiapkan diri nih?
Jangan hancurkan hubungan pernikahan Anda dan pasangan hanya karena merasa tak sesuai atau sulit memahami pasangan. Anda hanya perlu sabar menjalani dan mengulang tahap perkembangan dalam pernikahan ini. Jadikanlah kelanggengan pernikahan Anda berdua sebagai suatu hadiah berharga bagi diri sendiri, pasangan, dan juga anak.

Post a Comment

Previous Post Next Post