Bob Sadino

11:24 AM

Om Bob Sadino
Bob Sadino

Terinspirasi.com - Sejak kecil, Bob Sadino tidak pernah bermimpi dan menyangka jika puluhan tahun kemudian ia akan menjadi salah satu entrepreneur yang memberi inspirasi bagi banyak orang.

Bob Sadino dilahirkan di Tanjung Karang, Lampung pada 9 Maret 1933 dengan nama lengkap Bambang Mustari Sadino. Setahun cuma ia tinggal di tanah kelahirannya, karena pada tahun 1933 ia harus mengikuti orang tuanya pindah ke Jakarta.

Latar belakang orang tuanya yang mempunyai pekerjaan sebagai pegawai negeri di zaman Hindia Belanda membuatnya hidup cukup berkecukupan. Pendidikan pun didapat dengan leluasa mulai dari SD sampai SMA. Kehidupan keluarganya yang relatif mapan membuat Bod Sadino muda dapat bergaul dengan orang-orang Tionghoa yang terkenal dengan jiwa dagangnya.

Selepas SMA, Bob memulai karirnya dengan bekerja di Unilever. Melihat teman-temanya pada kuliah, ia pun ikutan kuliah dengan masuk Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Namun, karena ia tidak betah dengan bangku kuliah, ia hanya bertahan beberapa bulan saja di FH UI.

Setelah bertahun-tahun di Unilever, Bob Sadino akhirnya pindah kerja ke Mc Lain Watson Coy (Djakarta Lloyd), sebuah perusahaan pelayaran. Latar belakang pekerjaannya yang mengharuskan ia melanglang buana ke manca negara dan menetap lama dibeberapa tempat seperti Amsterdam dan Hamburg. Hal ini membuatnya mahir beberapa bahasa asing seperti Inggris, Belanda dan Jerman bahkan bahasa Jepang.

Setelah bosan terus-terusan menjadi bawahan dan stress menghadapi tekanan atasan, pada tahun 1967 Bob Sadino kembali ke Jakarta.

Ia kemudian menikah dengan Soelami Soejoed, karyawan Bank Indonesia di Amerika Serikat.  Kehidupan yang mapan dengan gaji besar mereka tinggalkan. Mereka hanya punya dua sedan Mercedez sabagai hasil jerih payah selama bertahun-tahun di Eropa. Satu buah dijual untuk modal membeli sebidang tanah di Kemang, sedangkan satunya lagi dijadikan sebagai taksi gelap dan terkadang disewakan kepada orang lain.

Awalnya semua berjalan lancer, Mercedez yang dijadikan taksi mampu menopang hidup mereka. Namun, belum genap setahun, taksinya tertabrak dan Bob tidak mampu memperbaikinya karena biaya. Dari sinilah perjuangan hudupnya dimulai.

Untuk menutupi kebutuhan hidup keluarga, Bob menjadi tukang bangunan. Setiap minggunya dia mendapat upah Rp.100 dari pekerjaan tersebut. Lebih kurang setahun Bob berpindah-pindah antara gedung yang satu ke gedung yang lain sebagai buruh bangunan.

Kondisi Bob Sadino terdengar juga oleh sejumlah kawannya, baik yang dulu bekerja di Jakarta maupun di Eropa. Mereka ikut prihatin atas apa yang dialami oleh Bob Sadino. Sri Mulyono Herlambang, salah satu kawannya menyarankan agar Bob beternak ayam untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bob setuju dengan saran tersebut.

Akhirnya Bob mulai mengeluti ternak ayam  sebanyak 50 ekor,  bibitnya diperoleh dari kawannya yang didatangkan langsung dari Belanda. Sebagai bekal untuk beternak, Bob banyak belajar dari bebagai sumber bacaan.

Sambil beternak, Bob pun berlangganan majalah peternakan terbitan Belanda. Berkat majalah tersebut, pengetahuan Bob tentang peternakan ayam menjadi bertambah dan selalu update. Bob bahkan jadi lebih ahli dibidang peternakan bila dibandingkan pakar peternakan di Institut Pertanian Bogor yang sering mengundangnya.

Dari situlah Bob berkeyakinan bahwa belajar tidak harus di bangku sekolah/kuliah, karena dia mem uktikan bisa belajar dari manapun dan dari siapapun dengan hasil malah lebih baik dari pada mereka yang berkutat di bangku sekolah/ kuliah.

Bob juga membuktikan, untuk menjadi seorang pengusaha tidak diperlukan bakat atau bukan juga factor keturunan. Faktaya, dia yang anak seorang guru mampu menjadi pengusaha yang baik dan disebut orang sebagai entrepreneur sukses. Dia juga membuktikan, bahwa untuk menjadi pengusaha sukses sekaligus orang kaya, tidak perlu sekolah formal yang tinggi, yang penting, lakukan saja!.

Bob Sadino meninggal karena sakit  pada 19 Januari 2015 di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta.

Biodata Bob Sadino
Nama : Bob (Bambang Mustari) Sadino
TTL : Tanjung Karang, 9 Maret 1933
Agama  : Islam
Istri : Soelami Soejoed
Anak : Mery Andiani dan Shanti Dwi Diaz
Hobi : Dengar Musik JAZZ dan Klasik

Pendidikan
-SD, Yogyakarta (1947)
-SMP, Jakarta  (1950)
-SMA, Jakarta (1953) 

Pekerjaan
-          Karyawan Unilever
-          Keryawan Djakarta Lloyd, Amsterdam dan Hamburg
-          Pemilik supermarket  Kem Chicks
-          Dirut PT Boga Catur Rata
-          PT Kem Food (sosis dan ham)
-          PT Kem Farm (pengolah sayur)
-          PT Lambung Andal
-          PT Andal Citra Promotion
-          PT Kemang Nusantara Travel

Artikel Lainnya

Latest
Previous
Next Post »
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai

No comments