Haji Mabrur

2:00 PM
Haji Mabrur
Masjidil Haram
Terinspirasi.com- Alkisah, dahulu kala disebuah tempat terdapat serombongan jemaah calon haji yang sedang bersiap-siap untuk melakukan perjalanan dalam rangka menunaikan rukun Islam yang ke lima ini.
Mereka dilepas oleh seluruh masyarakat kampung tersebut dengan memanjatkan do'a-do'a agar jemaah calon haji tersebut diberi keselamatan dan membawa pulang predikat haji yang mabrur.

Perjalanan menuju ke tanah haram waktu itu memakan waktu yang tidak sebentar, berminggu-minggu dan bahkan berbulan-bulan untuk sampai ke tujuan. Mereka mempersiapkan bekal dalam perjalanan yang cukup banyak. Bekal tersebut akan diangkut oleh unta-unta yang akan menjadi tunggangan selama perjalanan. Tidak lupa, para jemaah calon haji ini menghiasi unta-unta tunggangan mereka ini sebagus bagusnya.

Aktivitas merias dan mendandani unta kenderaan mereka ini akhirnya jadi semacam festival, mereka berlomba-lomba menghiasi unta-unta mereka dengan berbagai macam asesoris dan pernak pernik agar unta-unta mereka tampak cantik dan menarik.

Haji Mabrur
Ilustrasi Unta (Foto : Flickr)
Siapa yang untanya paling menarik didandani, maka dialah yang mendapat apresiasi dan sanjungan. Akhirnya, kegiatan ini menjadikan mereka lengah dari tujuan mereka semua, yaitu memenuhi panggilan Allah.

Akhirnya, berangkatlah rombongan jemaah calon haji ini perlahan meninggalkan kampung halamannya. dengan diiringi isak tangisdan lambaian tangan keluarga dan orang-orang yang mereka kasihi.

Sang ketua rombongan tentu saja menunggangi unta yang paling istimewa, penuh dengan hiasan dan asesoris yang mengagumkan. Sebagai ketua rombongan, tenta ia harus bertanggung jawab terhadap rombongannya, termasuk segala persoalan yang mucul selama dalam perjalanan.
Baca Juga : Kebaikan Akan Berbalas Dengan Kebaikan Pula
Setelah berjalan sekian lama, sampailah mereka disebuah tempat untuk beristirahat. Secara kebetulan, kampung tempat mereka singgahi ini berpenduduk miskin, banyak janda-janda tua yang tidak mampu serta juga banya anak-anak yatim disana.

Haji Mabrur
Ka'bah
Setelah dirasa cukup beristirahat, mereka kemudian melanjutkan perjalanan. Malangnya, ternyata ada sepasang suami istri yang tidak dapat melanjutkan perjalanan karena mereka telah kehabisan bekal.

Peristiwa tertinggalnya suami istri ini disadari setelah rombongan berjalan cukup jauh dari tempat mereka berhenti.

Setelah diadakan penelusuran, ternyata sepasang suami istri tersebut telah menyumbangkan bekal perjalanan hajinya untuk membiayai hidup dan pendidikan kaum miskin tempat mereka singgah untuk beristirahat.

Akhirnya suami istri jemaah calon haji ini kembali ke kampung halamannya.

Singkat cerita, mereka telah sampai ke tanah suci . Seluruh rangkaian ritual ibadah haji telah dilaksanakan, kini tibalah saatnya mereka akan bertolak untuk melakjkan perjalanan pulang ke kampung halamannya. Tak lupa membeli berbagai macam buah tangan sebagai pertanda telah pergi ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Mereka yakin telah mendapat predikat haji mabrur.
“Siapa yang berhaji ke Ka’bah lalu tidak berkata-kata seronok dan tidak berbuat kefasikan maka dia pulang ke negerinya sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari no. 1521)
Setelah melewati perjalanan yang  panjang dan melelahkan, akhirnya rombongan tiba dikampung halamannya dan disambut oleh sanak keluarga dan warga kampung laksana pahlawan yang memenangkan sebuah peperangan. Meskipun lelah dan penat, rona wajah mereka selalu memancarkan kebahagiaan yang tidak terhingga.

Suatu malam, Ketua Rombongan bermimpi. Dalam mimpi tersebut, ia mengikuti pengumuman tentang orang-orang yang mendapat haji mabrur. Ia sangat yakin dan percaya, dirinya termasuk salah satu nominator yang akan mendapat predikat haji mabrur tersebut.

Setelah dimumkan, ternyata yang mendapat predikat haji mabrur adalah sepasang suami istri yang gagal berangkat haji karena menyumbangkan bekal perjalan hajinya untuk orang-orang yang tidak mampu ditempat mereka singgah beristirahat.
Dan haji mabrur tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga.” (HR. Bukhari no. 1773 dan Muslim no. 1349)
Ketua rombongan itu sangat sedih, namun akhirnya ia terjaga dari mimpinya. Ia lalu terdiam dan merasa sangat malu karena ia dan teman-temannya pergi haji karena unsur riya'. Riya' karena berlomba  lomba menghiasi unta, riya' karena membeli oleh-oleh, riya' ketika mengadakan pesta menjelang keberangkatan dan kepulangan,

Secara lahiriah mereka pergi haji, namun hatinya tidak ikut berhaji. Setelah mimipi itu ia tersadar, bahwa haji mabrur itu tidak cukup hanya shalat, puasa, haji dan memperbanyak asesoris keislaman, melainkan juga senantiasa menafkahkan harta kekayaannya untuk kepentingan sosial demi menolong mereka-mereka yang kurang beruntung. [ ]

Artikel Lainnya

Previous
Next Post »
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai

1 comment

This comment has been removed by the author.